Cerpen Sungguh Aku Mencintaimu penuh dengan Kenangan
Hidup ini memang tak seindah
impian kita.Apakah kalian pernah merasakan rasanya dunia ini gelap tanpa cahaya
sama sekali?Pasti rasanya seperti tak ada harapan di dunia ini,yah itulah nasib
seorang tuna netra.Tapi aku bukanlah seorang tuna netra,tapi aku akan selalu
menjadi cahaya bagi orang yang sangat aku cintai itu,namanya Satria,dia adalah
kekasihku yang telah aku kenal selama kurang lebih 2 tahun terakhir ini.Tapi
kami baru memulai hubungan ini selama 6 bulan,selebihnya dia adalah tetangga
baruku di perumahanku.Kita memang terpaut umur yang cukup jauh yaitu 3
tahun,aku baru berumur 17 tahun dan dia berumur 20 tahun,tapi aku sangat
menyayanginya aku tak pernah memandangnya sebagai orang yang cacat karena
bagiku dia begitu sempurna.Dia memiliki apa yang tak dipunyai oleh laki-laki
yang lain,yaitu kasih sayangnya dan pengertianya.Yang aku tau dia tidak buta
sejak lahir,tapi dia buta karena mengalami kecelakaan pada umur 16
tahun.Hubungan ini memang sangat sulit untuk kami jalani terlebih Satria yang
selalu kasihan melihatku,bila banyak orang
yang selalu mengejekku mempunyai kekasih seorang tuna netra.Tapi bagiku
itu bukan halangan,selalu ku yakinkan padanya bahwa aku sangat mencintainya tak
peduli apa yang orang katakan di luar sana.Tapi dia selalu mengatakan’Kamu
masih muda tak seharusnya kamu mengurusiku yang tak punya harapan ini
lagi.’Betapa miris hatiku jika ku mendengar dia bicara begitu,karena sunggu aku
mencintainya bukan kasiahan kepadanya.
Pagi itu,
“Pa,Meta
berangkat dulu ya!”teriakku sambil pergi meninggalkan rumah.
Di
rumah samping rumahku sudah kudapati sosok Satria yang sedang menyapaku.
“Pagi,Meta !”
“Pagi!”kataku sambil menghampiri
Satria.
“Pagi sekali kamu berangkat hari
ini.”
“Iya,hari ini ada ulangan
Matematika.”
“Mau buat contekan dulu to?”tanya
Satria menggoda.
“Idih,menghina banget ya nggak
dong,percuma belajar semaleman kalau akhirnya Cuma buat contekan.”
“Emang tadi malem belajar?Bukanya
malah telpon-telponan ma aku.”
“Ya,habis telpon Dong.”
“Iya deh percaya.Udah berangkat sana ntar telat.”
“Iya deh bye..bye..”kataku sambil
mencium pipi Satria,yang membuat Satria kaget.
“Meta ,kamu
tu kebiasaan!”katanya marah.Aku pun hanya cekikikan.
^ ^ ^
Di sekolah,
“Pagi Ririn!”sapaku pada Ririn
sahabatku yang sedang sibuk membalik-balik buku tulisnya.
“Pagi,Meta !Eh
hari ni ulangan Matematika lho!”
“Aduh ketinggalan jaman banget
sih.Udah tau dong.”
“Dasar kamu ya nggak mau kasih tau.”
“Jadi belum tau to?”
“Yailah masih nanya,duh pliss
contekin ya,belum siap nih.”
“Kebiasaan deh.”kataku sambil
meletakkan tas di samping Ririn.
“Sekali ini ja deh.”
“Iya-iya.”
“Yampun Meta,baik banget sih.”
“Kalau da maunya ja sampai
segitunya.”
Ulangan
Matematika telah usai,yah seperti biasa 10 soal esai,semoga saja aku dapat
nilai yang bagus dalam ulangan kali ini.
^ ^ ^
Pulang sekolah,
Di
depan gerbang sekolah ku dapati sosok
Satria dengan baju warna putih,bergegas aku menemuinya.
“Cieh..Meta
senengnya habis muter otak langsung dapat vitamin.Baik banget sih Satria
tu.”ejek Ririn di depan Satria.
“Ih..papan sih iri ya.”balasku.
“Udah deh nggak sah rebut.”Satria
menengahi.
Tiba-tiba
dari gerbang sekolah datang Doni dengan muka bringasnya menghampiriku.
“Oh,jadi ini cowok baru Lo?”sapa
Doni.
“Iya,emang kenapa?”balasku tak kalah
ketus dengan Doni,sementara Satria masih saja memegang pundakku.
“Gue nggak nyangka ternyata Lo
putusin Gue Cuma buat cowok buta kayak dia.”kata Doni yang membuatku marah.
Tiba-tiba
tanganku melayang dan mendarat mulus di pipi kiri Doni.
“PLAK!!”
“Meta
papa sih.”kata Satria meredahkan emosiku.
“Pa sih arti tamparan ni?Nggak da
artinya,nggak akan menyurutkan cinta Gue ma Lo.”kata Doni yang membuatku
semakin geram.
“Lo kenapa sih selalu gangguin
Gue?Kita udah putus selesai semuanya.”
“Tapi setidaknya Lo nggak sama cowok
buta kayak dia.”
“Asal Lo tau ya,Lo tu yang buta.Hati
Lo buta.”
“Oh ya tapi setidaknya Gue masih
bisa liat wajah Lo.”kata Doni sambil menarik tanganku untuk diajaknya menaiki
motornya.
“Lepasin,Don..lepasin.”teriakku
sementara Satria dan Ririn masih saja memegang tanganku.
“Lepasin dia.”pinta Satria.
“What,lepasin.Gue nggak pernah rela Meta sama Lo.”kata Dono sambil terus menarik
tanganku.Temen-temen Doni melakukan tendangan kearah perut Satria dan
“Bruk!”Satria terjatuh tangan ini
pun lepas dari gegaman Satria.
“Coba Lo liat diri Lo.Njaga diri
sendiri aja nggak bisa gimana mau njagain Meta .”kata
Doni memecah keheningan kala itu.Dan akhirnya Doni melepaskan aku,ku hampiri
Satria yang terkapar di tanah,Satria meraba-raba tanah untuk membantunya berdiri.
“Lo emang kurang ajar banget
ya,Don.”kataku ketus.
“Asal Lo tau Gue masih sayang ma
Lo.Guys cabut.”kata Doni untuk segera pergi.
Sepeninggalan
Doni,
“Sat,nggak papa kan ?”tanya ku.
“Yah,aku baik-baik aja.”
“Met,Sat Gue cabut dulu ya.”kata
Ririn.
“Yah,makasih.”balasku.
Kemudian
aku dan Satria menaiki taksi yang sudah kami tunggu.Sesampai di rumah.
“Met,besok pagi aku tunggu di bukit
harapan.”pinta Satria.
“Da pa?”
“Da sesuatu yang harus aku
omongin.”kemudian Satria tertatih-tatih menuju rumahnya.
^ ^ ^
Hari
Minggu pagi,
Kusiapkan diriku untuk menemui
Satria.Bukit harapan adalah kenangan terindahku dengan Satria,karena di sanalah
awal kita bertemu.Bukit harapan emang tempat yang sangat indah,karena di sana
kita dapat melihat indahnya kota Bandung secara keseluruhan.Waktu itu tanpa
sengaja aku bertemu dengan Satria yang baru saja pindahan di perumahanku,ketika
itu ku lihat dia sangat kesepian dia hanya memandang ke depan tapi tatapanya
kosong,ku hampiri dia dan aku duduk di sampingnya.
“Hei,baru ya?”sapa ku.
Kemudian
dia menatapku.
“Iya.”
“Boleh kenalan nggak?Gue Meta.”
“Gue Satria.”
“Suka kesini?”
“Nggak baru sekali.”
“Tempat yang indah,kita dapat
melihat Bandung
dengan segala kesibukanya.”
“Oh,ya?Mau ceritakan padaku tentang
suasana tempat ni?”
“Maksudmu?”
“Menceritakan bagaimana tempat ni.”
Kemudian
ku kibas-kibaskan tanganku di depan matanyayang sedang menatapku,tapi tak ada
respon berkedipun tidak,hinnga ku menyadarinya.
“Oh,ya.Sorry.”
Kemudian
dia tersenyum padaku.Aku mulai menceritakanya dengan detil keadaan tempat
itu.Dan lucunya aku duluan yang nembak dia,dan tempatnya di depan
rumahnya,awalnya aku Cuma bilang I love you tapi dia cuma diem aja trus aku
cium deh pipinya trus dia bales I love you too dan selanjutnya kita jadian deh.
Akhirnya sampai juga di bukit
harapan.
“Pagi Satria!”sapaku,kemudian Satria
berusa mencari sumber suara ku,ku pegang tanganya.
“Pagi,Meta .”
“Da pa sih kok ke sini.Oh pasti mau
mengenang masa-masa kita dulu kenalan ya.”tebakku.
“Bukan.”balasnya dingin.
“Trus?”
“Ada sesuatu hal yang harus aku bicarain ma
kamu.”
“Pa sih?”kemudian Satria memegang
wajahku.
“Aku mau kita putus.”
Tak
terasa air mataku meleleh.
“Pa putus,maksudmu?”
“Bener kata Doni,aku hanya orang
buta,njagain diri aku sendiri aja aku nggak bisa gimana aku bisa njagain kamu.”
“Kamu tu papaan sih,nggak pernah aku
berpikir seperti itu.”balasku dengan air mata yang masih terus meleleh.
“Met,kamu jangan paksain diri kamu
untuk jadi cahaya aku di gelap ku ini.”kata Satria yang membuatku semakin
terpukul.Kulepas dekapan tangan Satria dari wajahku dan aku pergi berlari
meninggalkan Satria,sementara Satria masih mematung di sana .
Aku rasa Satria kejem banget aku
nggak pernah merasa kasihan bahkan terpaksa mencintainya,sungguh aku tulus
mencintainya.
^ ^ ^
Hingga saat itu aku tidak pernah
lagi bertemu dengan Satria,bahkan dia tidak pernah ada di depan rumahnya lagi
pada pagi hari.Aku sungguh merasa kehilangan dia.Rumahnya terlihat kosong sudah
beberapa hari ini,ku coba tanyakan pada tetangga di samping rumahnya dan
percuma kalau aku tanya ayah atau Bundah toh mereka selalu sibuk dengan urusan
mereka.
“Permisi,Tante Maya.”sapaku pada
Tante Maya yang sedang menyiram bunga.
“Iya,Meta
da pa?”
“Pak Broto dan anaknya Satria kemana
yak?Kok sepi.”
“Kamu itu gimana toh,mereka kan baru pergi ke Jakarta
sejak seminggu yang lalu.”
Aku
kaget mendengar pernyataan itu.
“Jakarta ,mereka akan kembali kapan?”
“Wah,nggak tau.Bisa nggak seminngu
lagi,bulan,tahun atau bahkan tidak kembali.”
Aku
langsung berlari ke dalam rumah mendengar pernyataan dari Tante Maya tadi.
Sat,kenapa sih Lo ninggalin
Gue?Kenapa sih Lo tega banget?
^ ^ ^
Sudah 5 bulan Satria pergi selama
itu pula aku kesepian dan Doni masih aja menggangguku.
“Met,Lo kenapa kok pucet banget.Ke
UKS jay a?”
“Nggak,Rin makasih Gue nggak papa.”
Pelajaranpun
terus berlalu tak ada yang bertamu di otakpun ilmu itu.Dan pulang sekolah
adalah saat-saat yang paling menyebalkan karena aku harus menatap rumah kosong
milik Satria.
“Met,Lo bareng Gue ja pulangnya.”
“Nggak,Rin makasih.Hari ini Gue
pingin jalan kaki.”
“Gila Lo ,kan
jauh.”
“Mungkin Gue emang udah gila.”
“Tapi,Met..”
“Udah deh kasihan Candra dah
nunggu.”
Aku
pun berlalu dengan kakiku di tengah panas matahari yang begitu senang
memelukku.Aku pusing,terlihat jalan tanjakan dengan fatamorgana yang
menyebabkan aku tambah pusing,dan…aku jatuh,aku merasa ada orang yang
menangkapku kala itu aku coba untukku membuka mata tapi tak kuasa hingga
akhirnya aku benar-benar pingsan.
^ ^ ^
“Met..Meta ..bangun..Met..”
Terdengar
suara laki-laki yang begitu aku kenal memanggilku.Ku coba untuk membuka mataku
tapi tak bisa berat sekali.Dia terus memanggilku dan dia bicara lagi kepada
seseorang.
“Badanya panas.”kata orang itu.
“Ayo bangun,Met..”kata seseorang
wanita yang sangat aku kenal,tapi rasanya otak ini telah mendidih.
“Dia kenapa?”tanya laki-laki itu.
“Yang aku tau dia nggak pernah
makan.”jawab wanita tadi.
“Kita bawa dia ke rumah sakit
saja.”usul laki-laki tadi.
Otakku
dan perutku membuatku semakin lemah dan aku benar-benar terkapar kala itu.
^ ^ ^
Kepalaku sudah agak mendingan,mata
ku sudah agak ringan,ku coba membuka mata ini sedikit demi sedikit,ada sesosok
laki-laki yang memelukku dalam tidurku.Aku rasa aku tidur lama sekali lebih
dari sehari.Ku coba gerakan tanganku untuk membelai rambut cepak laki-laki
itu.Ku belay dan ku coba membuatnya bangun,laki-laki itu bergerak dan
melihatku,dan astaga siapa yang aku lihat ini…..Satria ….nggak mungkin,aku
menangis dengan terisak.
“Aku sudah gila.”isakku.
“He..bangun.”kata laki-laki yang
mirip Satria menghapus air mataku.
“Bangun,Met..”kata Ririn yang sangat
aku kenal suaranya.
“Aku sudah gila,Rin!”isakku lagi.
“Met,buka matamu.”pinta laki-laki
tadi.
Pelan-pelan
ku buka mataku.Ku coba menyentuh wajah laki-laki tadi.
“Satria,ni kamu?”
“Iya ni aku.Maafin aku,aku buat kamu
jadi seperti ini.”
“Kenapa kamu pergi?kamu marah?”
“Nggak,Met.aku pergi ke Jakarta untuk operasai
mata,dan sekarang aku bisa melihat orang
yang begitu aku cinta dan orang yang begitu mencintai aku.”
“Dan.”
“Dan kamu sangat cantik sepeti
hatimu.”
“Bukan itu.”
Lalu
Satria mengeluarkan kotak dari sakunya.Yah berisi 2 buah cincin,
“Maukah kau menjadi tunaganku?”
“Akukan masih 17 tahun.”
“Nggak papa yang pentingkan belum
menikah.”
“Idih..kamu itu ya.”
Kemudian
Satria memegang tanganku yang masih terkulai lemas.
“Aku akan menunggumu sampai kamu
siap.Seperti kamu nunggu aku.”
Satria
menyematkan cincin itu di jari manisku.
