Senin, 06 Agustus 2012


Cerpen Sungguh Aku Mencintaimu penuh dengan Kenangan

Hidup ini memang tak seindah impian kita.Apakah kalian pernah merasakan rasanya dunia ini gelap tanpa cahaya sama sekali?Pasti rasanya seperti tak ada harapan di dunia ini,yah itulah nasib seorang tuna netra.Tapi aku bukanlah seorang tuna netra,tapi aku akan selalu menjadi cahaya bagi orang yang sangat aku cintai itu,namanya Satria,dia adalah kekasihku yang telah aku kenal selama kurang lebih 2 tahun terakhir ini.Tapi kami baru memulai hubungan ini selama 6 bulan,selebihnya dia adalah tetangga baruku di perumahanku.Kita memang terpaut umur yang cukup jauh yaitu 3 tahun,aku baru berumur 17 tahun dan dia berumur 20 tahun,tapi aku sangat menyayanginya aku tak pernah memandangnya sebagai orang yang cacat karena bagiku dia begitu sempurna.Dia memiliki apa yang tak dipunyai oleh laki-laki yang lain,yaitu kasih sayangnya dan pengertianya.Yang aku tau dia tidak buta sejak lahir,tapi dia buta karena mengalami kecelakaan pada umur 16 tahun.Hubungan ini memang sangat sulit untuk kami jalani terlebih Satria yang selalu kasihan melihatku,bila banyak orang  yang selalu mengejekku mempunyai kekasih seorang tuna netra.Tapi bagiku itu bukan halangan,selalu ku yakinkan padanya bahwa aku sangat mencintainya tak peduli apa yang orang katakan di luar sana.Tapi dia selalu mengatakan’Kamu masih muda tak seharusnya kamu mengurusiku yang tak punya harapan ini lagi.’Betapa miris hatiku jika ku mendengar dia bicara begitu,karena sunggu aku mencintainya bukan kasiahan kepadanya.
            Pagi itu,
            “Pa,Meta berangkat dulu ya!”teriakku sambil pergi meninggalkan rumah.
Di rumah samping rumahku sudah kudapati sosok Satria yang sedang menyapaku.
            “Pagi,Meta!”
            “Pagi!”kataku sambil menghampiri Satria.
            “Pagi sekali kamu berangkat hari ini.”
            “Iya,hari ini ada ulangan Matematika.”
            “Mau buat contekan dulu to?”tanya Satria menggoda.
            “Idih,menghina banget ya nggak dong,percuma belajar semaleman kalau akhirnya Cuma buat contekan.”
            “Emang tadi malem belajar?Bukanya malah telpon-telponan ma aku.”
            “Ya,habis telpon Dong.”
            “Iya deh percaya.Udah berangkat sana ntar telat.”
            “Iya deh bye..bye..”kataku sambil mencium pipi Satria,yang membuat Satria kaget.
            Meta,kamu tu kebiasaan!”katanya marah.Aku pun hanya cekikikan.
^          ^          ^
            Di sekolah,
            “Pagi Ririn!”sapaku pada Ririn sahabatku yang sedang sibuk membalik-balik buku tulisnya.
            “Pagi,Meta!Eh hari ni ulangan Matematika lho!”
            “Aduh ketinggalan jaman banget sih.Udah tau dong.”
            “Dasar kamu ya nggak mau kasih tau.”
            “Jadi belum tau to?”
            “Yailah masih nanya,duh pliss contekin ya,belum siap nih.”
            “Kebiasaan deh.”kataku sambil meletakkan tas di samping Ririn.
            “Sekali ini ja deh.”
            “Iya-iya.”
            “Yampun Meta,baik banget sih.”
            “Kalau da maunya ja sampai segitunya.”
Ulangan Matematika telah usai,yah seperti biasa 10 soal esai,semoga saja aku dapat nilai yang bagus dalam ulangan kali ini.
^          ^          ^
            Pulang sekolah,
Di depan gerbang sekolah ku dapati sosok  Satria dengan baju warna putih,bergegas aku menemuinya.
            “Cieh..Meta senengnya habis muter otak langsung dapat vitamin.Baik banget sih Satria tu.”ejek Ririn di depan Satria.
            “Ih..papan sih iri ya.”balasku.
            “Udah deh nggak sah rebut.”Satria menengahi.
Tiba-tiba dari gerbang sekolah datang Doni dengan muka bringasnya menghampiriku.
            “Oh,jadi ini cowok baru Lo?”sapa Doni.
            “Iya,emang kenapa?”balasku tak kalah ketus dengan Doni,sementara Satria masih saja memegang pundakku.
            “Gue nggak nyangka ternyata Lo putusin Gue Cuma buat cowok buta kayak dia.”kata Doni yang membuatku marah.
Tiba-tiba tanganku melayang dan mendarat mulus di pipi kiri Doni.
            “PLAK!!”
            Meta papa sih.”kata Satria meredahkan emosiku.
            “Pa sih arti tamparan ni?Nggak da artinya,nggak akan menyurutkan cinta Gue ma Lo.”kata Doni yang membuatku semakin geram.
            “Lo kenapa sih selalu gangguin Gue?Kita udah putus selesai semuanya.”
            “Tapi setidaknya Lo nggak sama cowok buta kayak dia.”
            “Asal Lo tau ya,Lo tu yang buta.Hati Lo buta.”
            “Oh ya tapi setidaknya Gue masih bisa liat wajah Lo.”kata Doni sambil menarik tanganku untuk diajaknya menaiki motornya.
            “Lepasin,Don..lepasin.”teriakku sementara Satria dan Ririn masih saja memegang tanganku.
            “Lepasin dia.”pinta Satria.
            “What,lepasin.Gue nggak pernah rela Meta sama Lo.”kata Dono sambil terus menarik tanganku.Temen-temen Doni melakukan tendangan kearah perut Satria dan
            “Bruk!”Satria terjatuh tangan ini pun lepas dari gegaman Satria.
            “Coba Lo liat diri Lo.Njaga diri sendiri aja nggak bisa gimana mau njagain Meta.”kata Doni memecah keheningan kala itu.Dan akhirnya Doni melepaskan aku,ku hampiri Satria yang terkapar di tanah,Satria meraba-raba tanah untuk membantunya berdiri.
            “Lo emang kurang ajar banget ya,Don.”kataku ketus.
            “Asal Lo tau Gue masih sayang ma Lo.Guys cabut.”kata Doni untuk segera pergi.
Sepeninggalan Doni,
            “Sat,nggak papa kan?”tanya ku.
            “Yah,aku baik-baik aja.”
            “Met,Sat Gue cabut dulu ya.”kata Ririn.
            “Yah,makasih.”balasku.
Kemudian aku dan Satria menaiki taksi yang sudah kami tunggu.Sesampai di rumah.
            “Met,besok pagi aku tunggu di bukit harapan.”pinta Satria.
            “Da pa?”
            “Da sesuatu yang harus aku omongin.”kemudian Satria tertatih-tatih menuju rumahnya.
^          ^          ^
Hari Minggu pagi,
            Kusiapkan diriku untuk menemui Satria.Bukit harapan adalah kenangan terindahku dengan Satria,karena di sanalah awal kita bertemu.Bukit harapan emang tempat yang sangat indah,karena di sana kita dapat melihat indahnya kota Bandung secara keseluruhan.Waktu itu tanpa sengaja aku bertemu dengan Satria yang baru saja pindahan di perumahanku,ketika itu ku lihat dia sangat kesepian dia hanya memandang ke depan tapi tatapanya kosong,ku hampiri dia dan aku duduk di sampingnya.
            “Hei,baru ya?”sapa ku.
Kemudian dia menatapku.
            “Iya.”
            “Boleh kenalan nggak?Gue Meta.”
            “Gue Satria.”
            “Suka kesini?”
            “Nggak baru sekali.”
            “Tempat yang indah,kita dapat melihat Bandung dengan segala kesibukanya.”
            “Oh,ya?Mau ceritakan padaku tentang suasana tempat ni?”
            “Maksudmu?”
            “Menceritakan bagaimana tempat ni.”
Kemudian ku kibas-kibaskan tanganku di depan matanyayang sedang menatapku,tapi tak ada respon berkedipun tidak,hinnga ku menyadarinya.
            “Oh,ya.Sorry.”
Kemudian dia tersenyum padaku.Aku mulai menceritakanya dengan detil keadaan tempat itu.Dan lucunya aku duluan yang nembak dia,dan tempatnya di depan rumahnya,awalnya aku Cuma bilang I love you tapi dia cuma diem aja trus aku cium deh pipinya trus dia bales I love you too dan selanjutnya kita jadian deh.
            Akhirnya sampai juga di bukit harapan.
            “Pagi Satria!”sapaku,kemudian Satria berusa mencari sumber suara ku,ku pegang tanganya.
            “Pagi,Meta.”
            “Da pa sih kok ke sini.Oh pasti mau mengenang masa-masa kita dulu kenalan ya.”tebakku.
            “Bukan.”balasnya dingin.
            “Trus?”
            Ada sesuatu hal yang harus aku bicarain ma kamu.”
            “Pa sih?”kemudian Satria memegang wajahku.
            “Aku mau kita putus.”
Tak terasa air mataku meleleh.
            “Pa putus,maksudmu?”
            “Bener kata Doni,aku hanya orang buta,njagain diri aku sendiri aja aku nggak bisa gimana aku bisa njagain kamu.”
            “Kamu tu papaan sih,nggak pernah aku berpikir seperti itu.”balasku dengan air mata yang masih terus meleleh.
            “Met,kamu jangan paksain diri kamu untuk jadi cahaya aku di gelap ku ini.”kata Satria yang membuatku semakin terpukul.Kulepas dekapan tangan Satria dari wajahku dan aku pergi berlari meninggalkan Satria,sementara Satria masih mematung di sana.
            Aku rasa Satria kejem banget aku nggak pernah merasa kasihan bahkan terpaksa mencintainya,sungguh aku tulus mencintainya.
^          ^          ^
            Hingga saat itu aku tidak pernah lagi bertemu dengan Satria,bahkan dia tidak pernah ada di depan rumahnya lagi pada pagi hari.Aku sungguh merasa kehilangan dia.Rumahnya terlihat kosong sudah beberapa hari ini,ku coba tanyakan pada tetangga di samping rumahnya dan percuma kalau aku tanya ayah atau Bundah toh mereka selalu sibuk dengan urusan mereka.
            “Permisi,Tante Maya.”sapaku pada Tante Maya yang sedang menyiram bunga.
            “Iya,Meta da pa?”
            “Pak Broto dan anaknya Satria kemana yak?Kok sepi.”
            “Kamu itu gimana toh,mereka kan baru pergi ke Jakarta sejak seminggu yang lalu.”
Aku kaget mendengar pernyataan itu.
            Jakarta,mereka akan kembali kapan?”
            “Wah,nggak tau.Bisa nggak seminngu lagi,bulan,tahun atau bahkan tidak kembali.”
Aku langsung berlari ke dalam rumah mendengar pernyataan dari Tante Maya tadi.
Sat,kenapa sih Lo ninggalin Gue?Kenapa sih Lo tega banget?
^          ^          ^
            Sudah 5 bulan Satria pergi selama itu pula aku kesepian dan Doni masih aja menggangguku.
            “Met,Lo kenapa kok pucet banget.Ke UKS jay a?”
            “Nggak,Rin makasih Gue nggak papa.”
Pelajaranpun terus berlalu tak ada yang bertamu di otakpun ilmu itu.Dan pulang sekolah adalah saat-saat yang paling menyebalkan karena aku harus menatap rumah kosong milik Satria.
            “Met,Lo bareng Gue ja pulangnya.”
            “Nggak,Rin makasih.Hari ini Gue pingin jalan kaki.”
            Gila Lo,kan jauh.”
            “Mungkin Gue emang udah gila.”
            “Tapi,Met..”
            “Udah deh kasihan Candra dah nunggu.”
Aku pun berlalu dengan kakiku di tengah panas matahari yang begitu senang memelukku.Aku pusing,terlihat jalan tanjakan dengan fatamorgana yang menyebabkan aku tambah pusing,dan…aku jatuh,aku merasa ada orang yang menangkapku kala itu aku coba untukku membuka mata tapi tak kuasa hingga akhirnya aku benar-benar pingsan.
^          ^          ^
            “Met..Meta..bangun..Met..”
Terdengar suara laki-laki yang begitu aku kenal memanggilku.Ku coba untuk membuka mataku tapi tak bisa berat sekali.Dia terus memanggilku dan dia bicara lagi kepada seseorang.
            “Badanya panas.”kata orang itu.
            “Ayo bangun,Met..”kata seseorang wanita yang sangat aku kenal,tapi rasanya otak ini telah mendidih.
            “Dia kenapa?”tanya laki-laki itu.
            “Yang aku tau dia nggak pernah makan.”jawab wanita tadi.
            “Kita bawa dia ke rumah sakit saja.”usul laki-laki tadi.
Otakku dan perutku membuatku semakin lemah dan aku benar-benar terkapar kala itu.
^          ^          ^
            Kepalaku sudah agak mendingan,mata ku sudah agak ringan,ku coba membuka mata ini sedikit demi sedikit,ada sesosok laki-laki yang memelukku dalam tidurku.Aku rasa aku tidur lama sekali lebih dari sehari.Ku coba gerakan tanganku untuk membelai rambut cepak laki-laki itu.Ku belay dan ku coba membuatnya bangun,laki-laki itu bergerak dan melihatku,dan astaga siapa yang aku lihat ini…..Satria ….nggak mungkin,aku menangis dengan terisak.
            “Aku sudah gila.”isakku.
            “He..bangun.”kata laki-laki yang mirip Satria menghapus air mataku.
            “Bangun,Met..”kata Ririn yang sangat aku kenal suaranya.
            “Aku sudah gila,Rin!”isakku lagi.
            “Met,buka matamu.”pinta laki-laki tadi.
Pelan-pelan ku buka mataku.Ku coba menyentuh wajah laki-laki tadi.
            “Satria,ni kamu?”
            “Iya ni aku.Maafin aku,aku buat kamu jadi seperti ini.”
            “Kenapa kamu pergi?kamu marah?”
            “Nggak,Met.aku pergi ke Jakarta untuk operasai mata,dan sekarang aku bisa melihat  orang yang begitu aku cinta dan orang yang begitu mencintai aku.”
            “Dan.”
            “Dan kamu sangat cantik sepeti hatimu.”
            “Bukan itu.”
Lalu Satria mengeluarkan kotak dari sakunya.Yah berisi 2 buah cincin,
            “Maukah kau menjadi tunaganku?”
            “Akukan masih 17 tahun.”
            “Nggak papa yang pentingkan belum menikah.”
            “Idih..kamu itu ya.”
Kemudian Satria memegang tanganku yang masih terkulai lemas.
            “Aku akan menunggumu sampai kamu siap.Seperti kamu nunggu aku.”
Satria menyematkan cincin itu di jari manisku.

Kamis, 02 Agustus 2012


ehhhhhhh anak anak juga ikutan mejeng juga.....weh bu dosen dan mas ibnu rois juga hahahaahahah pada narsis ueeeeeee
MY Honney is @ luthfia noormaliasari ardiansih ..... with me 08:05




saat perjalanan kelas reguler dalam kunjungan ke PDAM kebumen dan Waduk sempor,, sungguh suatu pengalaman yg Luar biasa.18/ 6/2012



Only hope mandy more

There âs a song thatâs inside of my soul
It âs the one that Iâve tried to write over and over again
Iâm awake in the infinite cold
But You sing to me over and over and over again
 So I lay my head back down
 And I lift my hands
 and pray to be only Yours
   I pray to be only Yours
   I know now you âre my only hope
 Sing to me the song of the stars
 Of Your galaxy dancing and laughing
 and laughing again
 When it feels like my dreams are so far
 Sing to me of the plans that You have for me over again
  So I lay my head back down
  And I lift my hands and pray
  To be only yours
  I pray to be only yours
  I know now youâre my only hope
 I give You my destiny
 I âm giving You all of me
 I want Your symphony
Singing in all that I am
At the top of my lungs I âm giving it back
So I lay my head back down
And I lift my hands and pray
To be only yours
I pray to be only yours
I pray to be only yours
I know now you âre my only hope